Sebagai Ibu baru banyak hal yang telah aku lalui yang membuatku mengerti bahwa seorang anak sangat membutuhkan Ibunya. Dan seorang Ibu sangat membutuhkan dirinya sendiri untuk menjadi kuat demi anaknya. Dan dirinya (Ibu) akan bisa menjadi penopang dirinya jika lingkungan sekitar memberinya getaran yang serupa. Tapi kembali lagi, ada atau tidaknya support dari sekitar, keputusan menjadi Ibu yang bagaimana tetap ada pada dirinya (ibu) sendiri.

Apa yang diinginkan Ibu kepada anaknya adalah penentu utama bagaimana dia menjalani harinya sebagai Ibu. Dan sekali lagi hal ini tidaklah mudah, terlebih jika lingkungan tidak mendukungnya. Banyak hal, teramat banyak yang di korbankan oleh seorang Ibu, meskipun itu atas kemauannya sendiri, tapi tidak semudah menuang air panas kedalam secangkir kopi lalu serta merta dapat dinikmati.

Peran Ayah pun seyogyanya juga tidak mudah, terlebih untuk Ayah yang berjiwa ke-Ibu-an, hal itu diakui sendiri oleh banyak Ayah di dunia. Disini sudah sangat jelas bahwa peran ke-Ibu-an baik yang dimiliki oleh Ibu itu sendiri atau Ayah menjadi sulit dan sangat sulit untuk sebagian orang. Tapi bukan berarti menjadi sesuatu yang harus dibenci dan harus dihindari, meskipun beberapa orang keuhkeuh untuk tidak menjalani kedua peran itu di dunia.

Hal yang paling sering aku rasakan sebagai Ibu, terutama peranku sebagai Ibu baru yang banyak hal sebelumnya seolah tabu menjadi harus di lakukan oleh Ibu, satu kata yaitu: lelah. Bayangkan kita harus memahami, men-toleransi, menyayangi, mencukupi, melayani, meladeni, mengimbangi, mencintai, mengayomi dua insan sekaligus secara bersamaan, Suami & Anak. Belum lagi keluarga, kerabat, teman, handai taulan, tetangga dan warga sekitar bahkan kadang seluruh warga dunia juga termasuk di dalamnya, karena beberapa Ibu suka memikirkan Ibu yang lain. Sangat berat!

Maka dari itu, aku memutuskan menjadi Ibu sederhana yang cukup memikirkan bagaimana caranya aku bahagia, kemudian anak, suami dan keluargaku bahagia, selanjutnya sangat memungkinkan jika kita bahagia maka lingkungan sekitar akan turut bahagia, kecuali beberapa orang yang memang tak pernah suka melihat orang lain bahagia, itu tidak masuk hitungan dan tidak perlu di perhitungkan.

Sesekali aku sering menangis sedikit meratapi, begini sekali peran Ibu ini. Tidak ingin berkata menyesal meski dalam hati sempat merasakan itu, bukan penyesalan karena menjadi seorang Ibu-nya tapi lebih karena menyesal tidak mempersiapkan diri jauh diawal. Karena menjadi Ibu butuh persiapan, layaknya ujian yang butuh belajar & latihan.

Kejadian paling dramatis yang terjadi berulang kali sampai bukan lagi menjadi dramatisasi tapi fase yang harus dilalui dengan reaksi yang bisa jadi sama berulang kali, tapi juga bisa berbeda sesekali. Kejadian itu aku namakan “Gunung Meletus” yang dalam dunia parenting lebih awam dikenal dengan “anak menangis teriak guling guling” , hampir gila aku dibuatnya. Bagaimana tidak gila jika kegilaan tangisannya tak kunjung berhenti meski banyak hal sudah kamu keluarkan, bahkan sampai air matamu pun tak juga menghentikan air matanya.

“Ibu aku membutuhkanmu, aku butuh pelukanmu, aku butuh Ibu mengusap air mataku dan berkata : kamu kuat anakku” itulah suara hatiku, Sungguh terkadang aku berharap Almarhumah Ibuku datang padaku dan sejenak mengantikan peranku sebagai Ibu lalu memperlakukanku kembali mejadi anak kesayangan Ibuku. Aku menangis untuk Ibuku, untuk peranku sebagai Ibu juga untuk seorang anak yang memanggilku Ibu.

Iya, tulisan ini aku tulis, saat aku sedang lelah dengan peranku sebagai Ibu namun aku sangat rindu pada Ibuku juga rindu pada kebebasan masa kecilku sebelum menjadi Ibu, tapi secara bersamaan aku sedang gelisah memikirkan masa depan anakku. Tapi aku sedikit lupa bahwa aku punya Alloh SWT sebagai penjaga sebaik baiknya peran di dunia ini. Aku titip anakku Ya Alloh, biarkan aku berjuang untuknya dan kuserahkan hasil terbaiknya KepadaMu.

Aku lanjut sholat malam.